Pengertian Estetika, Teori, Unsur

Pengertian Estetika Menurut Para Ahli

Estetika merupakan suatu ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keindahan, mempelajari semua aspek dari apa yang disebut indah. Keindahan itu sendiri meliputi keindahan alam dan keindahan buatan manusia. Keindahan buatan manusia misalnya, pada umumnya disebut kesenian. Dengan demikian, kesenian dapat dikatakan sebagai salah satu wadah yang mengandung unsur-unsur keindahan.

Sedangkan Bastomi dalam bukunya “Seni Kriya Seni” (2003:119) menyebutkan, dalam pengertian estetika mungkin sekali suatu barang berujud indah, namun mungkin pula tidak indah. Antara indah dan tidak indah kedua-duanya menyebabkan perasaan hanyut kedalamnya sehingga seseorang mau menerimanya dengan perasaan senang.

estetika

The Liang Gie (2005:17-18) membagi pengertian keindahan menurut luasnya ruang lingkup menjadi tiga:

  1. Keindahan dalam arti yang terluas: merupakan pengertian semula yang dianut oleh bangsa Yunani Kuno dan di dalamnya tercakup ide kebaikan. Filsuf Plato misalnya menyebut-nyebut tentang watak yang indah dan hukum yang indah. Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang selain baik juga menyenangkan. Plotinus menulis tentang ilmu yang indah dan kebajikan yang indah.
  2. Keindahan dalam arti estetis murni: menyangkut pengalaman estetis dari seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang dicerapnya. Pencerapan itu bisa secara visual menurut penglihatan, secara audial menurut pendengaran, dan secara intelektual menurut kecerdasan.
  3. Keindahan dalam arti terbatas: lebih disempitkan ruang lingkupnya sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dicerap dengan penglihatan, yakni berupa keindahan dari bentuk dan warna.

Ilmu estetika adalah suatu ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keindahan, mempelajari semua aspek dari apa yang disebut keindahan

(A.A.M. Djelantik. 2004:7). Di Eropa, pada abad ke 17 dan ke 18 ilmu estetika mulai berkembang lebih maju di segala bidang ilmu pengetahuan, hal ini dikarenakan memperoleh manfaat dari hasil-hasil penelitian dari perkembangan ilmu yang ada.

“Istilah estetika sendiri baru muncul tahun 1750 oleh filsuf minor bernama A.G. Baumgarten (1714-1762). Istilah ini diambil dari bahasa Yunani kuno, aistheton, yang berarti kemampuan meluhat lewat penginderaan” (Jakob Sumardjo. 2000:24). Estetika adalah bagian dari filsafat yang dalam bahasannya masuk dalam filsafat manusia yang terdiri dari logika, etika, estetika dan antropologis.

Pada abad 20, estetika dinamai estetika modern atau estetika ilmiah karena filsafat keindahan mulai bergeser kearah keilmuan. Dalam aktifitasnya estetika ilmiah didukung oleh ilmu-ilmu lain seperti psikologi, sosiologi, antropologi dan lain-lain. Sehingga sifat spekulatif dalam estetika semakin bergeser pada kegiatan empiris keilmuan.

Berdasarkan pengertiannya, estetika berasal dari aesthetis (yunani) yang berarti pencerapan atau cerapan indra. Pencerapan atau presepsi tidak hanya melibatkan indra, tetapi juga proses psikofisik seperti asosiasi, pemahaman, khayal, kehendak dan emosi (nanang Rizali, 2006: 16). Pada awalnya estetika adalah bidang filsafat yang berurusan dengan pemahaman tentang keindahan alam dan seni. Dalam perkembangannya hingga kini estetika diartikan “inti seni” yang meliputi pemikiran dan penyusunan unsur-unsur seni (rupa), serta cara pengungkapannya.

Pemahaman estetika dalam karya tenun ikat tradisi adalah bentuk pelaksanaannya merupakan apresiasi. Dalam bukunya “Pengantar Estetika” (Darsono

Teori Estetika Menurut Para Ahli

Sony Kartika, 2004: 82), menjelaskan bahwa apresiasi seni merupakan proses sadaryang dilakukan penghayat dalam menghadapi dan memahami karya seni. Apresiasi tidak sama dengan penikat, mengapreasiasi adalah proses untuk menafsirkan sebuah makna yang terkandung dalam karya seni. Seorang pengamat yang sedang memahami karya sajian maka sebenarnya ia harus terlebih dahulu mengenal struktur organisasi atau dasar-dasar penyusunan dari karya yang sedang dihayati.

Dalam menghayati karya seni harus terlebih dahulu mengenal struktur dasar seni rupa, mengenal garis atau goresan, mengenal shape (bidang/bangun) yang dihadirkan, mengenal warna dengan berbagai peranan dan fungsinya, mengenal dimensi ruang dan waktu dan lain sebagainya, serta mengtahui asas desain penyusunan, juga karakter pada tiap unsur pendukungnya.

Unsur Estetika

Menurut A.A.M. Djelantik dalam bukunya Estetika Sebuah Pengantar, semua benda atau peristiwa kesenian mengandung tiga unsur estetika (2004:15). Unsur estetika itu terdiri wujud (appearance), isi (substance) dan penampilan (presentation):

1. Wujud

Pengertian wujud mengacu pada kenyataan yang nampak secara kongkrit (berarti dapat dipersepsi dengan mata atau telinga) maupun kenyataan yang tidak nampak secara kongkrit, yang abstrak, yang hanya bisa dibayangkan, seperti sesuatu yang diceritakan atau dibaca dalam buku (A.A.M. Djelantik. 2004:17). Semua jenis kesenian baik yang visual, audio, maupun maudio visual, wujud yang ditampilkan dan dapat dinikmati oleh penikmat mengandung dua unsur dasar, yaitu bentuk dan struktur.

  • Bentuk, Bentuk dalam suatu karya seni adalah sesuatu yang paling awal ditangkap oleh penikmat. “Bentuk seni inilah yang pertama-tama ditangkap oleh penikmat seni dan serta merta dapat membangkitkan kepuasan atau kegembiraan”(Jakob Sumardjo.2000:116).
  • Struktur, Struktur atau susunan dari suatu karya seni adalah aspek yang menyangkut keseluruhan dari karya itu dan meliputi juga peranan masing-masing bagian dalam keseluruhan itu (A.A.M. Djelantik. 2004: 37) Tiga unsur mendasar dalam struktur karya seni adalah keutuhan atau kesatuan (unity), penonjolan atau penekanan (dominance) dan keseimbangan (balance).

2. Isi / Bobot

Isi adalah makna yang disajikan kepada pengamat. Seorang seniman menciptakan suatu karya seni karena ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada orang lain, entah itu pikiran, suasana hati, perasaaan, pesan ataupun sesuatu yang diyakini untuk harus disampaikan.

3. Penampilan

Selain wujud dan isi, penampilan merupakan salah satu unsur estetika yang penting dalam sebuah karya seni. Menurut A.A.M. Djelantik penampilan adalah cara penyajian, bagaimana kesenian tersebut disuguhkan kepada yang menyaksikannya, penonton, para pengamat, pembaca, pendengar, khalayak ramai pada umumnya.

Author Profile

T Nurandhari
T Nurandhari
Penulis adalah seorang penulis artikel pendidikan, ekonomi, keuangan, kesehatan, seni dan seputar teknologi internet, web dan juga pemerhati pendidikan di Indonesia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *