Pemerintah Deregulasi Peraturan Penghambat Industri Farmasi

regulasi-farmasi-alat-kesehatan-dipermudah.jpeg

Guna mendorong iklim kemudahan berupaya untuk meningkatkan investasi obat dan alat kesehatan menuju kemandirian bangsa, Kementerian Kesehatan gelar pertemuan dengan para pelaku industri farmasi dan alat kesehatan (Farmalkes) di Auditorium Siwabessy, Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin (25/11).

Ikut hadir dalam pertemuan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Sekretaris Jendral Oscar Primadi, Direktur Jendral Farmasi dan Alat Kesehatan Engko Sosialine Magdalene, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Siswanto serta 300 orang perwakilan dari industri obat, industri alat kesehatan, industri obat tradisional, industri ekstrak bahan baku alam, dan asosiasi farmalkes.

Industri farmasi dan alat kesehatan menerima perhatian Presiden Jokowi. Hal ini disebabkan karena di Indonesia harga obat terbilang tinggi serta bahan bakunya sebagian besar masih berbasis impor. Hal yang sama juga ditemukan dalam pemakaian alat kesehatan di fasilitas kesehatan di Indonesia.

Berdasarkan Menkes, kunci untuk mengurai keadaan sulit hal yang demikian yakni cara kerja perizinan yang gampang dan kencang, malahan kalau dapat hitungan hari.

“Kuncinya adalah diperizinannya, bukan problem yang lain-lain. Asal izinnya tak berlarut-larut, jikalau dapat sehari selesai disitulah kuncinya,” kata Menkes.

Menkes Terawan menambahkan bahwa, pemerintah sudah mengidentifikasi langkah-langkah percepatan yang dilaksanakan untuk membatasi harga obat dan alat kesehatan, salah satunya menyokong investasi serta meningkatkan pemanfaatan alkes sebesar 30% di fasilitas kesehatan pemerintah.

“Kemenkes menunjang investasi industri farmasi melalui upaya-upaya deregulasi tata tertib yang menghambat dan usulan insentif perpajakan serta percepatan izin edar farmalkes tanpa mengesampingkan kualitas keamanan dan manfaat,” kata Menkes Terawan.

Menurutnya, lewat deregulasi diharapkan lebih efisien dan evektif sehingga dapat memangkas pelaksanaan perizinan ataupun non perizinan industri farmasi dan alat kesehatan, sehingga waktu tempuhnya jauh lebih kencang dan gampang, sehingga cara kerja investasi dapat ditingkatkan. Apabila ini bisa dijalankan, dia percaya harga obat lebih murah.

“Aku berharap iklim investasi lebih simpel, lebih mudah, biar dapat berkompetisi dipasar. Dengan bersaing dipasar maka pasarlah yang menetapkan harga, tidak boleh ada monopoli, dengan adanya persaingan yang sehat, saya yakin harga-harganya turun,” tegasnya.

Menutup sambutannya, Menkes ingin momentum pertemuan hal yang demikian sebagai ajang terjalinnya sinergi yang baik antara pemerintah dengan industri farmasi dan alat kesehatan menuju kemandirian bangsa.

Author Profile

T Nurandhari
The Najans Blog Penulis adalah seorang penulis artikel pendidikan, ekonomi, keuangan, kesehatan, seni dan seputar teknologi internet, web dan juga pemerhati pendidikan di Indonesia.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *